Mengapa orang Korea lebih menyukai Demian karya Hermann Hesse dibanding novel Barat lainnya? *)

Oleh: Colin Marshall

Tidak lama sebelum pindah dari LA ke Seoul, saya pergi berbelanja buku di Last Bookstore dengan teman pertukaran pelajar dari Korea. Menelusuri tumpukan di lantai atas yang tidak terlalu terorganisir (seringnya betulan hanya tumpukan, setidaknya saat itu), kami menemukan koleksi novel Korea terbitan tahun 1990an. Selagi saya mencari buku yang dapat mengajari sesuatu yang lebih mendalam tentang budaya Korea, semua novel tersebut mulai terlihat hanya seperti novel terjemahan bahasa Korea dari literatur Barat, tapi teman saya merasa bahwa itu saja cukup untuk memenuhi kriteria pencarian saya. “Kalau kau ingin belajar tentang Korea, kau harus baca ini,” katanya, mengambil buku berjudul Demian karya Hermann Hesse edisi bahasa Korea.

Saya mengenal nama itu. Seperti beberapa pembaca buku Amerika lainnya dari generasi yang sama, saya mengenal Hesse pada silabus pelajaran-bahasa Inggris (kelas bahasa Inggris), tapi untuk novelnya yang berjudul Siddhartha terbit tahun 1922 tentang perjalanan pemuda Nepal. Demian, novelnya terbit tahun 1919 tentang perjalanan pemuda Jerman menemukan realisasi diri, dibantu oleh teman bijaknya bernama sesuai dengan judul buku tersebut, tidak pernah terdengar, tapi di Korea novel tersebut telah mencapai kepentingan budaya hingga kritikus Lee Dong-jin, penyiar dari podcast Red Book Room, membuat pernyataan berikut: “Ada dua jenis orang: mereka yang membaca Demian, dan mereka yang tidak.”

Mengingat keberadaan buku dalam jangka waktu yang lama di kurikulum sekolah, kebanyakan penduduk Korea masuk pada kategori yang pertama. Siddartha mungkin masuk dalam daftar bacaan sekolah menengah pertama dan atas di Amerika karena antusiasme dari para guru bahasa Inggris, tapi mengapa seorang novelis Swiss-Jerman seperti Hesse, yang bahkan memusatkan ketertarikannya pada apa yang dulu disebut pemikiran Oriental, banyak memberikan pengaruh pada orang Korea? Sekarang ini penduduk Korea tidak ragu memberikan penghormatan/penghargaan pada Hesse. Kafe bertema Hesse ada di Korea (terutama di Paju Book City), dan bahkan referensi atas hasil karyanya muncul di media paling utama: boyband BTS contohnya, mengklaim bahwa lagunya yang berjudul “Blood, Sweat, & Tears” (yang videonya sekarang sudah dilihat hampir 150 juta orang di YouTube) bercerita tentang ajaran Hesse.

Sitkom Korea berjudul The Producers (2015) bercerita tentang bintang pop yang fenomenal dan tak tersentuh, bernama panggung Cindy, terlalu sadar akan statusnya sebagai, seperti dalam kata-kata blog filosofi-dan-drama-TV-Asia yaitu The A-Philosopher’s Chair, “gambaran komersial yang dapat dengan mudah direplikasi dan disesuaikan secara massal sesuai keinginan agensi bakatnya.” Dimiliki oleh “keletihan duniawi yang tidak sesuai dengan usianya,” Cindy “merasa bahwa perasaannya tercermin dalam buku yang ditulis hampir satu abad yang lalu: Demian.” Blog merangkum novel tersebut seperti berikut:

Sejarah tentang bagaimana pandangan intelektual seorang pemuda yang ditransformasikan oleh serangkaian mentor dan kenalan lain, Demian mengutuk ketaatan tanpa keraguan atas pemikiran yang sudah dikenal, sebaliknya justru menganjurkan pemikiran mandiri yang tidak dikendalikan oleh pihak yang berwenang, suri tauladan, mentalitas kawanan dan bahkan mentor. Dengan melakukan itu, Hesse percaya kita dapat menemukan jati idiri dan memenuhi tujuan hidup. Itu bukan semacam latihan hedonistik yang dilakukan oleh mereka yang terintimidasi tanggung jawab dan tantangan normal. Sebaliknya, hal itu membuat seseorang mengalami rasa sakit dan ketakutan, saat dia melepaskan dirinya sendiri, dengan usaha keras, dari mekanisme dan struktur yang menawarkan prediktabilitas dan penegasan sosial sejauh ini, dan mencoba sendiri pada hal-hal yang belum diketahui.

Seorang mahasiswa bernama Shin Seul-ki yang menulis di Korea Times meminta dengan sangat pada para pembaca untuk “mengikuti kata hati,” membuka dengan “petikan pemikiran” dari Demian, yaitu kalimat pembuka dari novel tersebut: “Aku hanya ingin mencoba hidup sesuai dengan bisikan yang datang dari diriku sendiri. Mengapa hal itu sangat sulit?” Dia menjawab pertanyaan tersebut dengan menunjuk sistem edukasi di Korea, yang “mengharuskan siswa untuk menghabiskan hampir seluruh waktu bangun mereka belajar untuk ujian masuk kuliah mereka dan bukannya mencari tahu apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan. Sekolah tidak menawarkan kesempatan pada siswa untuk mengetahui apa panggilan hati mereka. Sekolah hanya mendorong mereka ke ‘perlombaan edukasi’ sebelum mereka menemukan visi hidup mereka. Para siswa memelajari sesuatu yang sulit untuk masa depan yang cerah; namun, secara paradoks mereka tidak tahu apa yang membuat masa depan mereka cerah.”

Pendidikan Korea—sejalan dengan hierarki sosial Korea, budaya korporat Korea, lingkungan politik Korea, dan lain sebagainya—tentu saja telah meredam beberapa jati diri, tapi di dalam argumen Shin terdapat salah persepsi yang diketahui secara umum oleh penduduk Korea: bahwa negara Barat entah bagaimana memiliki seluruh panggilan jiwa, visi, dan masa depan yang sudah terpikir, setelah sekian lama membuang “rutinitas” demi “kehidupan asli.” Dia mengakhiri artikelnya dengan merujuk Steve Jobs, subyek dari obsesi nasional atas hasil nyata tentang kreativitas, ketidaksesuaian, keefektifan, dan kekayaan belak, banyak orang Korea melihat bahwa negara mereka kurang. Biografi Steve Jobs karya Walter Isaacson diranking tidak jauh di bawah Demian (mungkin berdekatan dengan Talmud, buku lokal Korea yang banyak dinilai sebagai buku yang aneh) sebagai teks Barat yang suci di mana orang Korea, frustrasi dan ketakutan akan hidup mereka untuk alasan yang tidak dapat mereka jabarkan, beramai-ramai mencari jawaban.

Menanggapi utasan Quora berjudul, “Ada apa dengan warga Korea Selatan dan Hermann Hesse?”, seorang warga Barat yang sudah lama tinggal di Korea bernama Gord Sellar mendeskripsikan novel itu sebagai “tentang seseorang yang (secara transgresif, tetapi dengan cara novel bercerita) bergerak di luar dunia yang terlihat menuju dunianya sendiri,” menyentuh pada tema orang-orang yang menyandang “Kutukan Kain” yang mencegah pemenuhan mereka melalui interaksi sosial yang normal. Dan “bagi mereka yang tumbuh dewasa di Korea Selatan—tempat di mana penampilan dan bentuk sering diprioritaskan secara konvensional atas esensi atau isi—tema khusus ini mungkin mempunyai daya tarik khusus.” Seperti halnya latar Eropa abad 19 dengan “orangtua yang keberatan untuk mencintai pernikahan atau melarang hubungan atau pernikahan, wanita mencari suami berdasarkan potensi karier atau pendapatan mereka, dan orang-orang (sering kali wanita) berakhir dalam kesulitan besar atau dalam kemiskinan karena orangtua yang kejam atau kecelakaan keluarga yang tragis.”

Tiap cerita “Eropa kuno berjuang dengan modernitas” akan beresonasi dengan Korea yang melakukan banyak modernisasi sendiri. Contoh khususnya Demian, Sellar menuliskan, juga secara tidak sengaja menyentuh kepekaan mendongeng ala Korea: “Mereka jauh lebih terpikat pada akhir yang menyedihkan, dan mereka cenderung lebih sabar dengan cerita yang terungkap sedemikian rupa sehingga protagonis tidak pernah memiliki harapan untuk mengubah cerita hasilnya.” Ini telah mengenalkan kesulitan tertentu dalam pemasaran literatur Korea pada dunia Barat, yang “lebih memiliki kesabaran untuk cerita yang tokoh-tokohnya tidak bisa ikut campur atas takdir mereka” dan “cenderung kurang sabar dengan alur cerita yang sangat melodramatis,” tapi ini berarti serangkaian fiksi Jerman yang penuh kesengsaraan, contoh paling baik adalah The Sorrows of Young Werther oleh Goethe (dari obyek yang hasratnya tak berbalas, salah satu konglomerat terbesar di Korea mengadaptasi namanya), telah menjadi populer di sini.

Membaca Demian lagi setelah satu setengah tahun hidup di Korea, saya bisa merasakan sejak bab pertama apa yang dimaksud oleh rekan saya, saat narator buku tersebut, Emil Sinclair, mengingat masa kecilnya di Jerman pada akhir abad 19, berbicara dari dua “ranah” realitas pribadinya. “Rumah orangtua saya membentuk satu ranah, tapi batasannya bahkan lebih sempit, sebenarnya hanya mensyukuri orangtua saya sendiri.” Banyak pembaca Korea muda mengenali pemahaman ini secara mendalam, “ibu dan ayah, cinta dan ketegaran, perilaku teladan, dan sekolah” di mana “garis dan jalan menuju masa depan: ada kewajiban dan rasa bersalah, hati nurani dan pengakuan, pengampunan dan resolusi bagus, cinta, hormat, kebijaksanaan dan”—di negara yang Kristen telah menembus lebih dalam daripada tempat lain di Asia Timur—“tertuliskan dalam AlKitab.”

Namun mereka mungkin juga mengenali ranah kedua Emil sebagai ”gadis pelayan dan pekerja, cerita hantu, desas-desus skandal,” yang didominasi oleh “campuran dari hal-hal yang tidak keruan, menarik, menakutkan, misterius, termasuk rumah jagal dan penjara, pemabuk dan pemancing ikan, sapi-sapi betina, kuda yang tenggelam hingga mati, kisah perampokan, pembunuhan, dan bunuh diri.” Hesse mungkin juga menggambarkan Korea yang sedang berkembang secara agresif pada pertengahan abad 20—atau sudut-sudut yang lebih bermasalah dari Korea sekarang ini—saat dia menulis “polisi dan gelandangan, pemabuk yang memukuli istrinya, gadis-gadis yang keluar pabrik di malam hari, wanita tua yang menerapkan guna-guna sampai kau jatuh sakit, pencuri yang bersembunyi di hutan, pelaku pembakaran yang ditangkap oleh polisi setempat.”

Tanyakan orang Korea tentang Demian, dan tentang banyak orang yang membacanya (pagi ini saya bercakap dengan wanita yang memotong rambut saya tentang Abraxas, “dewa yang baik sekaligus setan” Gnostik, Hesse membuat Emil menemukan hal ini saat dewasa), sebagian besar akan menambahkan bahwa mereka pertama membacanya di usia remaja. Saat itu mungkin mereka telah memahami dengan jelas, seperti halnya Emil, bahwa mereka “ditakdirkan untuk menjadi ibu dan ayah, sebagai orang yang memiliki pandangan jernih dan tidak tercemar, kuat dan teratur seperti mereka.” Tetapi mereka mungkin juga merasakan bahwa untuk mencapai tujuan jangka panjang ini artinya “sekolah tanpa akhir, belajar, lulus tes dan ujian, dan ini akan terus melewati satu sama lainnya, ranah yang lebih suram,” bahkan saat mereka menjalani apa yang bisa dilihat orang Barat seperti masa kanak-kanak yang sangat panjang dengan ketergantuangan pada orangtua mereka, secara finansial dan lainnya, yang mungkin bertahan hingga melewati masa pernikahan mereka, tidak pernah berani menyerang bagian masa kecil ini “di mana setiap individu harus hancur sebelum bisa menjadi diri sendiri.”

Mungkin, seperti Emil, mereka bersekolah dan menemukan diri mereka sendiri terjatuh ke dalam budaya minum-minum saat berkumpul. “Seolah-olah saya berada dalam paksaan saat melakukan hal-hal itu,” Emil mengaku tentang dirinya sebagai remaja yang menghabiskan banyak waktu di bar untuk minum-minum. “Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan, karena saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan terhadap diri saya sendiri. Sudah sangat lama saya takut sendirian, takut akan perasaan halus dan suci akan dapat mengalahkan saya, takut akan pikiran tentang cinta muncul dalam diri saya.” Dia menggambarkan diri yang muncul dari penghancuran dirinya sendiri sebagai “pemuda berusia delapan belas tahun yang tidak biasa, belum bisa dianggap dewasa dan tidak berdaya,” sebuah gambaran yang, bagi orang Barat, mungkin sempurna untuk menggambarkan pemuda Korea, yang datang dengan sikap yang lebih dewasa sekaligus tidak lebih dewasa dari orang Amerika dan Eropa.

Tetapi di luar semua itu, pembaca muda Korea mungkin mengambil pesan dari Demian seperti generasi di atas menangkap gaya yang tertulis di Catcher in the Rye. “Orang takut karena mereka tidak pernah punya hak atas dirinya sendiri,” kata Demian, di sepanjang novel tersebut menjadi bimbingan—“saudaraku, tuanku,” dua peran yang sering kali tumpang tindih di Korea—pada Emil. “Seluruh masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang takut akan hal yang tidak diketahui dalam diri mereka sendiri! Mereka sadar bahwa aturan yang mereka jalani tidak lagi berlaku, bahwa mereka sudah hidup sesuai dengan hukum kuno—baik agama maupun moralitas mereka tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masa kini.” Dia lalu menuduh Eropa, lebih dari satu abad, “tidak melakukan apa pun selain belajar dan membangun pabrik,” gambaran yang sesuai tentang bagaimana Korea menghabiskan puluhan tahun atas perkembangan pesat tanpa pedoman setelah Perang Korea.

Ketika Emil berpikir tentang “para lelaki yang pantas, yang berpegang teguh pada kenangan masa-masa kuliah mereka yang mabuk-mabukan sebagai kenangan dari surga dan membentuk kultus dari tahun-tahun pelajaran mereka yang ‘hilang’ sebagai penyair atau romantika lain yang membentuk masa kecil mereka,” mencari “’kebebasan’ dan ‘keberuntungan’ di masa lalu, karena takut akan tanggung jawab mereka saat ini dan di masa depan,” seorang pembaca Korea akan memikirkan lusinan kenalan rekan sebaya yang berusia setengah baya, masih minum-minum di malam hari, menulis sajak secara rahasia—atau tentang dirinya sendiri. Bagi dia dan banyak orang lainnya, Demian terus menawarkan semacam penghiburan, sebuah janji bahwa suatu hari nanti seseorang bisa hidup tidak sampai akhir “mengikat opini mereka, idealisme, tugas-tugas, kehidupan dan kekayaan mereka lebih dan lebih dekat dengan kumpulan” tapi untuk mencapai “individualisme masa depan,” kemanusiaan “ke arah mana semua orang bergerak, yang wajahnya tidak diketahui siapa pun, di mana hukumnya tidak tertulis di mana pun.”

Namun seperti yang diketahui sebagian besar orang Korea, kisah itu tidak berakhir baik bagi Emil. Jauh dari humanitas yang baru, yang akhirnya muncul Perang Dunia I, dan Hesse membuat naratornya mengakhiri ingatannya dengan menggambarkan dirinya sendiri berada di tempat tidur rumah sakit, tidak pernah lagi mendapatkan bimbingan dari Demian, dan juga dikirim ke garis depan sebagai prajurit. “Membebat luka terasa sakit,” kata Emil. “Semua yang terjadi padaku sejak saat itu terasa menyakitkan.” Sentimen itu pasti beresonansi dalam budaya yang baru-baru ini bekerja dengan keyakinan bahwa hidup, mulai dari menjejalkan masa sekolah seseorang hingga perpisahan yang traumatik dan lama tertunda dari orangtua sampai penderitaan serta kekecewaan pribadi dan profesional yang terus terjadi di masa dewasa, semua memang sudah seharusnya menyakitkan.

*) Artikel asli dapat ditemukan di sini. Terjemahan bebas untuk kepentingan pribadi.

Advertisements

Akhir tahun 2016, punya cita-cita supaya pada tahun berikutnya bisa lebih banyak menulis di sini. Tapi tak terasa, 2017 lewat begitu saja dan saya hanya punya dua tulisan, pun salah satunya adalah rangkuman dari Goodreads Challenge 2017.

Padahal banyak sekali yang ingin dituliskan, tapi ya seperti biasa, ada saja halangannya. Tahun lalu banyak kehilangan teman satu tim di kantor, akibatnya ya jadi tanggung kerjaan sisa mereka. Cari pengganti mereka itu luar biasa sulitnya, mungkin karena jenis pekerjaan yang melelahkan, bahkan fresh graduate saja belum tentu mau. xD

Singkat cerita, kepergian tiga teman satu tim dalam waktu bersamaan memang cukup bikin banyak hal di kantor jadi tidak stabil. Salah satu cara untuk meminimalisir ketidakstabilan tersebut ya dengan bekerja bukan main kerasnya, lebih dari sebelumnya, dan pergi langsung ke pabrik untuk mempersingkat waktu dalam menyelesaikan banyak persoalan internal.

Selama ini saya termasuk sangat jarang pergi ke pabrik, selain jauh –kantor di Pluit, Jakarta sementara pabrik di Bawen, Semarang dan Wonogiri, Solo– jadi tidak mungkin ditempuh pulang-pergi tiap kali akan ke sana, setiap kali saya ke pabrik pasti paperwork di kantor Jakarta mau tidak mau terbengkalai. Artinya, lagi-lagi, butuh kerja lebih keras dari biasanya.

Setengah tahun terakhir, saya menghabiskan waktu sepertiganya di Wonogiri, seperempatnya habis untuk perjalanan, lalu sisanya untuk membereskan sisa-sisa pekerjaan yang terlantar. Hanya bisa membaca buku saat perjalanan, itupun hanya saat saya tidak lebih memilih untuk tidur. Lalu tak terasa, tiba-tiba saya sudah memasuki tahun 2018.

Sekarang sudah lebih lega rasanya, yang berantakan sudah bisa lumayan tertib. Teman satu tim sudah berjumlah komplet lagi, jadi sudah bisa berfungsi sesuai porsinya masing-masing. Semoga tidak ada lagi yang seperti kemarin, karena rasanya tidak keruan melebihi sakit hati akibat putus cinta.

 

Lama Tak Menulis

Namanya Satwika, biasa dipanggil Wika. Salah satu impiannya adalah bisa menikah sebelum usia 30 tahun, jatuh tempo di bulan Februari 2016. Ketika akhirnya bertemu si pria idaman lewat salah satu situs pencari pasangan, dia tidak buang waktu. Kenal di bulan Mei, kopi darat di bulan Juni, dan Agustus mereka sudah menggelar lamaran resmi. Meski kaget luar biasa, saya juga turut senang luar biasa karena mereka memang terlihat menikmati cepatnya proses yang mereka pilih. Mereka sama sekali tidak melihat bahwa yang sedang mereka jalani itu terlalu cepat, menurut mereka, ya memang itu adalah jalan yang sudah seharusnya mereka lalui.

Di hari lamaran 15 Agustus 2015, kedua keluarga tidak menggelar acara mewah. Masing-masing hanya mengundang keluarga, Wika tentu saja mengundang saya dan Dessy. Sayangnya Dessy tertahan di Lampung karena ada musibah keluarga, maka hanya saya yang dapat hadir. Kebetulan juga, Wika memang meminta saya untuk bantu-bantu foto, hitung-hitung menghilangkan biaya sewa fotografer. Saya pun dengan senang hati membantu meski sebenarnya masih amatir.

Mulai dari Wika dandan, acara dimulai, makan-makan, sampai setelahnya, ada begitu banyak foto yang berhasil saya ambil. Tapi saya sangat menyukai foto ini, entah kenapa. Meski belum selesai make-up, rambut yang masih manja dengan gulungan, bulu mata palsu yang masih terlihat tempelan, bahkan bedak yang masih belum rata, wajahnya terlihat begitu… bahagia. Dari lubang lensa, saya sudah bisa menangkap aura kebahagiaan di sana, tawa yang begitu tulus karena rasa senang tidak terkira, campuran antara rasa tegang dan penasaran akan bagaimana nantinya acara akan berlangsung. Sama sekali tidak sulit memintanya untuk tersenyum.

Makan dulu, yank!

Alhamdulillah semua berjalan lancar dan kedua keluarga sepakat untuk mengadakan ijab di bulan Januari 2016. Tercapai sudah cita-cita untuk menikah sebelum berusia 30 tahun. Tak terasa, sudah satu tahun lebih mereka menjadi suami-istri, kami masih sering bertemu, tidak lagi bertiga dengan Dessy, tapi berempat dengan personel tambahan, Arif, suaminya. Tempat biasa kami berkumpul pun menjadi semakin penuh, tapi Dessy dan saya tidak pernah keberatan. Rasanya menyenangkan sekali dapat melihat ada orang yang begitu manis memperlakukan teman saya.

Bulan ini mereka akan bulan madu kedua ke Bali, ada pengharapan-doa-usaha untuk memiliki keturunan secepatnya. Semoga permintaan mereka selalu dikabulkan. Aamiin. 🙂

[Foto] – Persiapan

Hasil Goodreads Reading Challenge 2016

46 buku, 10.221 halaman

Janji awal tahun lalu, ingin konsisten membaca satu buku dalam seminggu. Tapi apa boleh buat, tidak semua hal bisa kita dapatkan, salah satunya ya waktu untuk membaca. Meski berhasil tidak memasukkan komik ke dalam daftar buku yang dibaca tahun 2016, tapi jumlah buku yang dibaca menurun. Saya hanya mampu membaca 46 buku saja tahun lalu. Total halaman yang dibaca pun mau tak mau ikut meluncur dari kisaran 12,000 hingga hanya 10,221 halaman.

Mari kita pecah daftar 46 buku tersebut.

5 buku terjemahan (4 novel dan 1 biografi)

11 buku impor (7 novel, 3 buku puisi, dan 1 novel grafis)

30 buku lokal (16 novel, 8 buku puisi, 4 kumcer, dan 2 biografi)

Salah satu target saya di tahun 2016 adalah lebih banyak membaca buku terjemahan, nyatanya justru makin sedikit. Yang menyenangkan di tahun 2016 adalah banyaknya buku puisi lokal yang terbit -terima kasih AADC?2- semoga tahun ini pun demikian.

Dan tahun ini saya berkenalan dengan iJak dan Bookmate, perpustakaan digital yang memudahkan pembaca untuk mendapatkan akses pada buku yang ingin dibacanya.

iJak merupakan hasil kerja sama Pemprov DKI dengan beberapa penerbit lokal, memang belum banyak tetapi sudah cukup banyak judul yang dapat kita “pinjam”, semoga ke depannya akan dapat bekerja sama dengan seluruh penerbit lokal. Aplikasi ini gratis, dapat diunduh pada sistem operasi iOS, Android, dan WinPhone, tapi tidak dapat diakses melalui PC. Peminjaman setiap judul buku memakai sistem antre dan hanya dapat dipinjam kurang lebih 2-3 hari, jika belum selesai maka pengguna diharuskan untuk antre lagi. Tidak masalah bagi yang terbiasa membaca cepat.

Bookmate merupakan tempat peminjaman bagi yang ingin membaca buku impor, meski buku lokal pun sudah ada (terbatas judul dan penerbitnya). Aplikasi ini pun dapat diunduh pada iOS, Android, dan WinPhone, plus bisa diakses melalui PC. Menarik, ya? Tapi aplikasi ini tidak sepenuhnya gratis, ada beberapa buku yang masuk dalam kategori Premium dan hanya bisa diakses oleh pengguna yang berlangganan. Tapi karena aplikasi ini dapat diakses dari beberapa perangkat sekaligus, pengguna bisa saja mengajak teman lain untuk patungan, biaya berlangganannya sekitar IDR 59,900-79,000 tergantung operator telepon yang digunakan karena akan diambil langsung dari pulsa.

Bagi pembaca ebook, kedua aplikasi di atas tentu saja menguntungkan. Saya sendiri lebih menyukai buku fisik, tapi memang terkadang tidak memungkinkan untuk membaca dengan buku fisik saat sedang berdiri di kereta. Dari 46 buku yang saya baca tahun 2016, 8 di antaranya saya baca melalui iJak dan Bookmate. Masih ada beberapa aplikasi lain yang sejenis, tapi saya belum pernah mencobanya.

Omong-omong soal rangkuman, ini dia buku favorit saya tahun ini:

Monsoon Tiger and Other Stories – Rain Chudori (Kumcer)

Holy Mother – Akiyoshi Rikako (Thriller)

A Untuk Amanda – Annisa Ihsani (Young Adult)

The Seven Good Years – Etgar Keret (Biografi)

In Short – Rachel Hadeli Lie (Puisi)

Tahun ini sepertinya tidak lagi memasang satu buku per minggu, cukup berusaha untuk dapat membaca 36 buku saja dulu. Nanti sekiranya mampu, akan dinaikkan lagi deh.

Selamat membaca, teman-teman!

capture2

img_2485

Ujung Genteng, Juli 2016

Sejak mengikuti #apelpemburuawan bersama kawan-kawan Goodreads Indonesia, saya jadi terbiasa mengumpulkan foto-foto landscape atau pemandangan, terutama foto awan dan senja. Setiap Rabu, kami akan “setor” foto untuk #apelpemburuawan ini di sosial media, dulu di Facebook, sekarang sudah merambah ke Path dan Instagram. Silakan cek tagar tersebut jika ingin melihat hasil foto ramai-ramai ini.

Sore itu saya pergi dengan seorang teman yang tidak terlalu lekat dengan smartphone. Melintasi tol, saya melihatnya, senja kemerahan yang begitu manis. Matahari yang menuju tenggelam itu terlihat begitu penuh dan.. mewah! 😀

Saya memintanya untuk sedikit saja menurunkan laju mobil, tujuannya ya supaya saya bisa memotret senja tersebut. Tapi bukannya makin pelan, justru lajunya semakin kencang. Mungkin dia tidak dengar, begitu saya berkata dalam hati. Maka saya ulangi permintaan saya sekali lagi, tapi lajunya malah semakin cepat lagi. Saya pun sadar, teman saya bukannya tidak mendengar permintaan saya, tapi sengaja mengabaikannya dengan mempercepat lajunya. Saya pun bersut. Melihat hal ini, dia tertawa. Betul saja, dia sengaja rupanya.

Tak lama, kami pun memasuki rest area dan berhenti untuk membeli makanan. Tanpa diduga, dia mengajak saya melihat senja yang masih tersisa, meski sudah tidak semenarik saat saya ingin memotretnya tadi.

Tadi pasti kamu pengin motret itu kan? dia bertanya sambil menunjuk senja. Saya pun menggangguk, Tapi kamu enggak mau pelan-pelan, mana bisa aku motret gitu caranya? Padahal cantik banget senjanya.

 Lebih cantik lagi kalau kamu lihat begini, dia menyalakan rokok sambil melihat ke arah senja merah yang semakin sedikit terlihat. Saya mengalihkan pandangan, mulai melihat senja dan pergerakannya yang makin terbenam. Kami tidak berbicara sedikit pun, menyaksikan hilangnya senja cantik itu sampai tak terasa langit pun gelap.

Nikmati senja begini aja yuk lain kali, gak usah difoto. Mau ya?

Saya tersenyum, dia memang kurang suka dengan smartphone, yang saya tidak habis pikir, dia ternyata jauh lebih tidak menyukai lensa dibanding saya. Saya hanya tidak suka menjadi obyek foto, tapi saya begitu menikmati saat mengejar obyek lain dengan lensa. Sedangkan dia, lebih menyukai semua yang dinikmati secara alami.

Sejak itu, saya pun lebih banyak mengumpulkan senja di ingatan. Foto di atas, adalah foto senja terakhir yang saya ambil di tahun 2016. Banyak yang lebih cantik, tapi hanya ada di ingatan saya. Saya menyaksikan senja terbenam perlahan dengan begitu elegannya, lalu meninggalkan langit gelap sebelum akhirnya diisi bintang dan atau bulan dengan sinar keperakan.

Senja yang Tak Tertangkap Kamera

Tempat yang Berbeda

 

28575929991_7a793a71fb_o

Kurang lebih setahun belakangan, saya bekerja di tempat baru. Bidang yang sama, masih menjadi merchandisersulit mendeskripsikannya, tapi bisa dicari via Google jika berkenan-, memproduksi hal yang sama, tapi kali ini jauh lebih banyak tantangannya. Sebelumnya saya sudah pernah bekerja di agent, mencoba di factory kecil, loncat menjadi buyer, kali ini saya kembali menapakkan kaki di factory tapi tidak bisa dibilang kecil karena punya tiga cabang dan semuanya tidak berada di lokasi yang sama dengan tempat saya bekerja.

Berat? Pasti.

Sulit? Jelas.

Tapi saya memang tidak mencari mudah, saya mencari tempat untuk bisa mengerjakan apa yang suka bersama orang-orang yang sejalan dengan saya. Apa yang tidak saya dapatkan pada tempat kerja saya terdahulu. Maka saya pun memberanikan diri untuk berada di tempat saya bekerja sekarang, meninggalkan semua yang enak-enak di belakang sana dan memulai lagi dari awal.

Dan tentu saja, tidak ada yang menyenangkan dari pindah kerja. Saya harus menyerap kondisi kantor baru, beradaptasi dengan banyak orang baru, belajar tiga system sekaligus –bukan satu, tapi tiga-, belum lagi saya harus membiasakan pulang-pergi naik commuter line yang luar biasa penuh penumpangnya sampai terkadang bernapas saja rasanya sulit.

Tapi menjadi merchandiser selalu berhasil membuat waktu terasa begitu singkat. Dalam perjalanannya, saya sudah merasakan tiga kali kehilangan rekan kerja. Yang pertama membuat saya begitu patah hati –hingga saya nyaris merasa tidak bisa bekerja lagi-, yang kedua nyaris tidak terasa kecuali saat saya terpaksa menyelesaikan semua pekerjaannya, dan yang terakhir terlepas begitu saja karena saya tidak pernah ingin membuat orang lain bimbang. Semuanya terjadi hanya dalam kurun waktu setahun, membuat 2016 bukan tahun favorit saya.

Meski sudah setahun dengan tempat kerja baru, saya masih saja harus belajar banyak. Mungkin akan ada banyak rentetan training atau workshop yang harus saya ikuti, pun update system yang mau tak mau harus dipelajari atau hidup saya akan menjadi sangat sulit di sini. Masalah kerjaan memang tidak pernah habis, ada-ada saja rupanya. Mulai dari masalah produksi biasa sampai soal truk yang tidak datang sesuai jadwal atau bahkan soal price tag yang tertinggal. Nyaris sulit dipercaya, hal-hal kecil yang tidak terpikir bisa menjadi persoalan besar di tempat saya bekerja. Bukan di kantor saya bekerja, tapi di bidang saya bekerja.

Teman, sahabat, bahkan orangtua saya sendiri tidak pernah bisa mengerti jenis pekerjaan saya. Tidak pernah bisa masuk akal mereka saat saya menanti datangnya kontainer dan menunggu orang bea cukai memberi segel hingga nyaris pagi hari. Tapi ini yang saya dan kolega saya lakukan setiap harinya. Dan saya menyukainya.

Saya tahu akan ada saat di mana saya tidak lagi ingin menjadi merchandiser, tapi jika boleh memilih, saya ingin bekerja di sini sampai saya merasa cukup lalu tidak lagi bekerja kantoran. 🙂

30153616736_b7aa52865b_o

[Cobain Yuk] Merenda bersama WeWo Craft di Finders Fair


Crochet: (n) a handicraft in which yarn is made up into a patterned fabric by looping yarn with a hooked needle. (Source: Google)

Sederhananya, crochet itu ya merenda. Bedakan dengan knit yang artinya merajut ya. Nah, melihat boneka-boneka lucu yang cara pembuataannya “hanya” dengan merenda, siapa yang enggak tergiur?

Dapat e-flyer ini dari Kak Lia yang langsung saja saya iakan ajakannya. Workshop ini diadakan oleh WeWo Craft (WEekend WOrkshop Craft) yang memang sudah sering saya lirik-lirik kegiatannya melalui akun Instagram mereka, @WeWoCraft

Cara ikutnya cukup mudah, kirim saja email ke alamat email yang tertera, transfer biaya workshop (untuk kali ini sebesar IDR 325,000/orang) beserta bukti pembayaran, lalu terdaftarlah kami di workshop merenda ini. Selanjutnya cukup bawa diri saja ke lokasi dan waktu yang sudah ditentukan.

Workshop kali ini mengambil tempat di CiToS (Cilandak Town Square), masuk dalam event Finders Fair, acara mingguan yang berlokasi di Citos. Bertempat di meja kecil dan bangku imut-imut, saya dan kak Lia datang dan bersemangat sekali mengikuti pelajaran sore itu bersama dua orang pendaftar lain.

Kami diperbolehkan untuk memilih dua rol besar benang yang tersedia, ada banyak warna, saya pilih warna pink dan kuning; kak Lia ambil warna pink dan tosca. Selain itu kami mendapatkan satu hakpen, dua jarum plastik, empat kancing, dan satu modul untuk membuat boneka owl. Oke, saya semakin semangat membayangkan akan bisa membuat dan membawa pulang boneka lucu itu. *kedip-kedip

Sebelum masuk ke pelajaran, mbak Dita dari WeWo Craft ini kasih lihat hasil merenda pertamanya dulu, yaitu boneka yang bentuknya enggak begitu jelas, katanya. Hmm, lumayan dong ya harusnya..

Waktu yang disediakan sebenarnya hanya pukul 15.00-17.00 WIB, tapi begitu pelajaran dimulai dan kami merasakan sulitnya merenda, terutama bagian awal membentuk lapisan badan bawah boneka, kami langsung merasa enggak akan bisa menghasilkan apa pun. Serius deh, susah!

Setelah satu jam dan sekian kali bongkar pasang hingga benangnya kusut dan terpaksa dipotong, jadi juga bagian paling dasar dari boneka lucu. Ini membutuhkan 6 single crochet yang mudah, lalu membentuk bulatan dengan double crochet yang rumit, berikutnya mengikuti rumus yang disediakan pada modulnya, bertingkat-tingkat hingga nyaris membentuk corong. Ini bentuknya setelah berhasil bikin tiga tingkat. Baru tiga tingkat lho! *hopeless

Sebenarnya tahap ini tergolong mudah karena total renda yang harus dibuat jumlahnya sama mulai dari tingkat kedua hingga tingkat keenam belas. Lagi-lagi tak terasa waktu habis dengan cepat dan saya bahkan tidak sampai tingkat kesepuluh, meski memang sudah lebih berbentuk badan sih.

Lumayan, kan? Akhirnya saya hanya sampai di tingkat kedua belas dan bermaksud untuk menyudahi saja usaha membuat boneka tersebut. Meski belum berbentuk apa pun, tapi jika mengikuti tutorialnya dengan baik, seharusnya boneka apa pun bisa dibuat. Kuncinya, harus telaten dan fokus. Jangan bosan untuk bongkar pasang jika memang diperlukan. Dan jangan malas untuk mengurai hitungan untuk jumlah renda yang harus dibuat. Saya menyempatkan diri meminta mbak Dita untuk mengajari bagaimana cara mengganti warna benang di tengah pembuatan boneka. Ternyata tidak sulit, cukup terus merenda seperti biasa menggunakan benang warna baru sambil melindas benang warna lama sehingga tidak akan membingungkan.

kak Lia bermain dengan benang warna kesukaannya..

Dengan bentuk setengah badan boneka, saya meminta mbak Dita untuk menutup saja setengah badan tersebut. Tanpa saya tahu seperti apa jadinya, saya menutup bagian atas boneka yang terbuka lalu memasukkan kancing ke sela-sela bagian atas boneka, dan terakhir tentu saja berusaha memberikan mulut pada boneka tersebut. Hasil akhirnya seperti ini.

namanya Onky

Akhirnya selesai juga workshop kali ini. Mbak Dita sebagai pengajar benar-benar luar biasa. Sabar menghadapi pertanyaan yang sebelumnya sudah pernah diajukan; terutama soal hitungan renda. Belum lagi mbak Dita juga mau bantu peserta satu per satu sampai benar-benar bisa merenda (setidaknya sampai badan tengah). Dan meski sudah lewat waktunya, mbak Dita enggak ngusir kami lho.. xD

Ini dia wajah bahagia kami, salah satu peserta sudah pulang duluan karena ada acara yang harus didatangi lagi. Ah, saya senang sekali bisa mengikuti workshop dari WeWo Craft ini. Lain kali harus mencoba ikutan yang WeWo Art nih, pasti sama serunya. 🙂

27377136105_9d78d66dcb_o

Berdoa yang Singkat

3f722007c1699ddcedcc59bb9bf78c0d

Berdoanya selalu singkat saja. Belum sempat saya menikmati raut wajahnya yang serius, waktu berdoanya sudah usai. Selalu saja begitu, dan saya pun kecolongan waktu. Tak sampai lima menit, sosok itu sudah beranjak dari sana, tempatnya mengiring doa, lalu menghampiri saya yang selalu saja hanya melihat dari pintu.

Memangnya apa yang sudah kamu lakukan buat Tuhan sampai merasa berhak banyak meminta berkedok doa? Begitu pertanyaan awal darinya saat perbincangan kami tak terasa merasuk ke ranah religi. Saya tidak bertanya apa pun, tapi sepertinya sudah banyak pertanyaan soal durasi berdoanya yang mampir. Entahlah, tapi bukannya memang yang bisa kita lakukan ya berdoa itu tadi, selain berusaha lho ya. Tak banyak yang bisa saya katakan, ilmu agama yang cetek dan ketidak tahuan soal durasi berdoa miliknya membuat saya tak yakin menjawab pertanyaannya.

Tapi apa iya harus sepanjang itu berdoanya? Ngumpulin abu sampai banyak begitu, apa saja sih yang mereka minta di sana? Bukannya menjawab pertanyaan saya, dia justru menambah pertanyaan lain yang membuat saya tersindir. Ya, kadang saya pun berdoa cukup panjang setelah sembahyang. Kalau berdoa sependek kamu, memangnya minta apa? Secepat itu? Atau memang gak punya keinginan yang bisa dijadikan doa?  Ah, saya jadi menuduhnya. Bukan respons yang baik.

Soal pengin ini itu sih banyak, tapi kenapa meremehkan Tuhan sampai harus mengucapkan semua keinginan di tiap doa? Jangankan apa yang betul-betul kamu mau, sekadar lintas pikiranmu saja Tuhan sudah pasti tahu kok. Tuhan Maha Tahu. Ya kanSaya pun terdiam sejenak. Jadi, apa yang kamu ucapkan waktu berdoa? Saya penasaran, ingin tahu lebih banyak soal pemikiran yang sedikit berbeda dari apa yang sudah saya punya selama ini.

Restu. Pendek saja.

Saya pun kebingunganRestu? Restu soal apa? Itu kan gak spesifik. Respons yang saya dapat justru berupa gelak tawa berkepanjangan seperti mengejek. Luar biasa. Meski setelahnya, keluar juga jawaban atas pertanyaan saya. Restu ya restu, gak perlu spesifik disebut minta restu buat apa. Kadang kamu sendiri bias mau apa, kadang yang kesebut dalam doa bukan yang benar-benar kamu mau. Kadang kamu sulit mendengar apa yang hati kecil kamu mau. Tapi Tuhan tahu, semua yang kamu mau, semua yang kamu pikirkan, dan semua yang paling baik buat kamu. Makanya aku minta restu, mana yang nantinya kejadian, ya berarti itu jalan yang direstui. Meski menurut kita gak nyenengin, tapi itu sudah atas restu-Nya. Jadi apa pun itu, pasti yang terbaik buat kita. 

Gantian saya yang tertawa, bukan karena senang tapi karena merasa tertohok. Oh jadi maksudnya, meski aku bertahun-tahun mengucap doa yang itu-itu saja, tapi karena tidak direstui, makanya sampai sekarang pun gak keturutan. Begitu?

Ya begitu, kamu juga sebenarnya sadar itu kan? Sadar tapi ngeyel, oh, that is so you! Kalau konsep awalnya minta restu, begitu jalannya gak sesuai sama yang kamu mau, kamu bakal bisa terima. Manusia di hadapan saya ini kurang ajar, sebelum saya mengeluarkan argumen lain (baca: ngeyel), dia sudah menyebutkannya terlebih dulu. Maka saya pun mengurungkan niat. Padahal biasanya saya akan menang adu argumen jika diberi ruang, bukan karena lebih pintar, tapi karena saya bisa terdengar begitu meyakinkan saat menerangkannya.

Seakan mengerti bahwa saya tidak akan berargumen (baca: ngeyel) lagi, dia pun mengajak omong soal hal-hal lain yang menyenangkan dan kadang kurang bermakna. Saya pun terbawa dan tak lagi menyoalkan tentang berdoanya yang pendek. Mungkin dia tahu, jika persoalan tadi diteruskan sebentar lagi, maka saya akan bersut kemudian merajuk minta pulang. Lalu selagi saya tertawa menikmati omong-omong kami dan binar matanya yang begitu jenaka, tebersit doa dalam hati saya meminta restu.

Ah, masih saja saya berani meminta, padahal saya sudah tahu pasti, Tuhan tidak akan memberi restu untuk yang satu ini, sepanjang apa pun saya berdoa.

Ke Toko Buku Bersama Orang yang Tak Hobi Membaca

gramedia_20151121_202659

diambil dari google.com

Saya sangat menyukai toko buku. Saat pusing karena pekerjaan, saya suka meluangkan waktu untuk ke toko buku. Mencium bau buku baru sudah bisa membuat mood saya membaik, melihat-lihat buku terbitan baru, kadang kala saya membeli beberapa di antaranya saat memang ingin, kadang juga saya tidak membeli buku tetapi membeli pernak-pernik tak penting, pernah juga hanya melihat-lihat dan keluar tanpa membeli apa pun. Tapi intinya, toko buku adalah salah satu tempat favorit saya.

Mengingat waktu yang kadang lewat dengan cepat ketika saya berada di toko buku, biasanya saya akan pergi sendiri saja ke toko buku atau dengan teman-teman sesama penggila toko buku. Saya merasa kurang baik mengajak teman yang tidak suka membaca untuk pergi ke toko buku, karena nantinya mereka hanya akan bengong dan saya pun tidak akan tega berlama-lama di sana.

Tapi sudah beberapa waktu belakangan –tentu saja sebelum edisi saya terkapar– saya selalu mengajak salah satu teman saya yang tidak suka membaca ini ke toko buku. Alasannya sederhana, satu karena dia memiliki pulpen dan pensil mekanik yang sama persis dengan saya dan keduanya hanya ada di toko buku favorit saya itu, maka saya yakin dia sebenarnya tidak asing dengan toko buku tersebut; kedua karena saya merasa dia harus tahu tempat favorit saya –selain rumah, tentu saja-. Sesederhana itu.

toko

diambil dari google.com

Kali pertama, teman saya ini hanya mengekor saya mengelilingi toko buku dan membaca sinopsis-sinopsis buku, mengamati sampul-sampul buku baru, lalu melongo kaget melihat saya membeli tiga buku sekaligus. Saya pun menghampiri kasir diiringi oleh gumaman teman saya yang tiada henti mengenai kapan saya akan membacanya. Saya hanya tertawa menanggapinya dan berkata bahwa saya akan menghabiskannya dalam waktu sebulan paling lama. Yang tidak saya katakan padanya adalah saya masih memiliki beberapa tumpuk buku belum terbaca di rumah. xD

Teman saya tidak lagi mengekor di saat saya ajak ke toko buku berikutnya. Dia menyusuri rak-rak buku lain sewaktu saya berkutat di lorong buku-buku fiksi. Saat saya asyik membaca sinopsis buku Gravity karya Rina Suryakusuma, kawan saya datang lalu turut mengambil salah satu buku, Ke Mana Kau Pergi, Bernadette? lalu bertanya mengenai jalan ceritanya, dia pasti melihat saya membacanya beberapa saat lalu. Saya pun menceritakan garis besar ceritanya dengan gaya bercerita saya yang bisa dibilang cukup ekspresif. Teman saya tertawa mendengarkannya dan berkata bahwa ceritanya sangat menarik. Saya sendiri memang menyukai cerita pada buku tersebut, tapi yang tidak saya katakan padanya adalah saya tipe pencerita yang bergaya sangat meyakinkan dan sering kali membuat cerita terdengar lebih menarik dari aslinya. Meski gaya bercerita ini sangat jarang saya praktikkan, mungkin hanya pada orang-orang terdekat saja, ya kamu tahu kamu siapa kan. Berakhir dengan hanya membeli satu buku tadi, saya pun beranjak dari toko buku dengan memegang janji dari teman saya untuk kembali lagi dalam waktu dekat.

Yang berikutnya mudah saja, tak perlu lagi menilik keberadaan teman saya, sudah pasti di lorong yang sama dengan saya. Dan kali ini, saya tidak sendirian saat mengantre di kasir. Teman saya membawa buku A Monster Calls dari Patrick Ness, dia memilih buku tersebut karena penasaran dengan nasib monster yang ada. Saya hanya bisa tertawa dan bercerita sedikit soal monster dalam buku tersebut. Teman saya pun makin tak sabar untuk mulai membaca buku pertamanya dalam sekian tahun terakhir itu. Yang tidak saya katakan padanya adalah betapa depresifnya buku tersebut, saya ingin membiarkannya merasakan efek dari buku dengan cerita yang menurut saya sangat bagus tersebut. Semoga teman saya menikmati ceritanya.

Ah, lumayan juga. Membawa teman yang tidak suka membaca ke toko buku dan berhasil membuatnya mulai membaca? Yah, bukan hasil yang buruk kan?

Mungkin lain waktu saya harus membawa teman lain yang belum suka membaca juga. Siapa tahu berhasil meracuninya dengan virus terbaik ini.. 🙂

Kalian sudah pernah coba?

Tahapan Xpresi BCA

12705635_1024364324291525_9000782992280590093_n

Ini tulisan kesekian gue mengenai produk BCA. Bukan karena gue marketing-nya BCA, tapi karena memang selalu ada aja yang bisa ditulis soal bank yang satu ini. Kali ini gue mencoba promo terbaru dari mereka, namanya Tahapan Xpresi BCA. Sebenarnya gue juga kurang tahu sih jenis tabungan ini sudah pernah ada sebelumnya atau tidak. Tapi anggap saja promo ini baru ya. xD

Tahapan Xpresi BCA ini merupakan jenis tabungan yang tidak memiliki buku tabungan, sehingga nomor tabungan hanya akan tertera di kartu ATM bersama dengan nama pemilik dan nomor kartu ATM tersebut. Saat ini belum bisa digunakan untuk melakukan transaksi setoran tunai, tapi sepertinya fitur ini hanya soal waktu aja. BCA yang akan berulang tahun memberikan promo Tahapan Xpresi yang memberikan gimmick botol Tupperware dan voucher MAP senilai IDR 50,000 bagi para nasabah barunya.

Syarat membuka Tahapan Xpresi BCA:

  1. Sudah memiliki tabungan BCA sebelumnya. Artinya nasabah akan memiliki nomor rekening tambahan.
  2. Membawa kartu identitas, seperti KTP/SIM/Paspor.
  3. Membawa NPWP (kalau ada).
  4. Membawa uang untuk setoran awal dengan nominal minimum IDR 50,000
  5. Menyebutkan nomor rekening BCA lama.
  6. Selfie dengan kartu ATM Tahapan Xpresi dengan desain yang kita pilih lalu tayangkan di halaman Facebook Xpresi BCA (untuk mendapatkan Tupperware dan voucher MAP).
  7. Likes halaman Facebook Xpresi BCA (untuk mendapatkan Tupperware dan voucher MAP).

Proses pembuatan Tahapan Xpresi BCA ini bisa dibilang cukup singkat. Kalau biasanya buka rekening harus di Kantor Pusat atau Kantor Cabang Pembantu bank tersebut (dengan jam operasi cuma pk. 08.00-15.00), kali ini kita bisa buka rekening di pojok MyBCA yang sekarang ini sudah banyak terdapat di mal-mal besar Jakarta. Di sana akan ada petugas yang mendata dan membantu kita sampai akhir proses. Di pojok MyBCA tersebut akan terdapat bilik yang berisikan mesin besar yang memungkinkan kita untuk melakukan pendaftaran rekening melalui video conference. Lumayan keren ya? xD

bJ0MHrwKKdBCHPTWL380ynX3yVd2mqRDKax5J4COqzs

Saat vicon berlangsung, kita akan melalui beberapa tahap pembukaan rekening seperti yang biasa dilakukan di bank dengan customer service-nya. Bedanya, semua proses tadi kita lakukan sendiri dari bilik tersebut. Setelah serangkaian verifikasi terhadap nomor rekening lama, selanjutnya kita dapat memindai kartu identitas kita sendiri, kemudian mengambil foto melalui mesin tersebut (beberapa desain kartu ATM yang tersedia dapat memuat foto kita, jadi kartu tersebut hampir menyerupai KTP), membubuhkan tanda tangan melalui scan pad, melihat data pribadi terakhir yang terdapat pada database BCA (jika ada perubahan maka kita dapat langsung mengubahnya dengan bantuan petugas di seberang layar), dan terakhir, mendapatkan kartu dengan desain pilihan sendiri yang langsung dicetak oleh mesin tersebut. Aktivasi kartu ATM kita pun langsung dilakukan di mesin tersebut, dengan bantuan petugas BCA yang masih terhubung melalui vicon.

Ah, menyenangkan sekali!

Sayangnya, promo ini hanya berlangsung pada tanggal 14-21 Februari 2016 aja. Dan karena gue mendaftar di hari-hari terakhir, jadi gak kebagian voucher MAP-nya. Banyak banget yang ikutan daftar sampai gak kebagian. Tapi jangan sedih, masih kebagian botol Tupperware standar berukuran 500ml, yang pasti sih dapat kartu ATM dengan desain yang kita pilih sendiri. Terdapat sekitar 20an desain, tapi harus dicek lagi dengan petugasnya desain mana yang bisa mendapatkan gimmick. Oh, hanya ada dua desain saja yang bisa menyertakan foto. Gue sendiri pilih yang biasa aja, gak usahlah ya pasang foto sendiri di kartu ATM, cukup di KTP aja. 😀

Pas ditanya soal saran buat BCA, cuma satu sih saran gue, perbanyaklah mesin buat vicon dan memang berfungsi sebagai customer service tambahan. Jadi bisa mempermudah orang-orang yang lokasinya terlalu jauh dari KP atau KCP.

Selamat ulang tahun dan semoga makin inovatif!