img_2485

Ujung Genteng, Juli 2016

Sejak mengikuti #apelpemburuawan bersama kawan-kawan Goodreads Indonesia, saya jadi terbiasa mengumpulkan foto-foto landscape atau pemandangan, terutama foto awan dan senja. Setiap Rabu, kami akan “setor” foto untuk #apelpemburuawan ini di sosial media, dulu di Facebook, sekarang sudah merambah ke Path dan Instagram. Silakan cek tagar tersebut jika ingin melihat hasil foto ramai-ramai ini.

Sore itu saya pergi dengan seorang teman yang tidak terlalu lekat dengan smartphone. Melintasi tol, saya melihatnya, senja kemerahan yang begitu manis. Matahari yang menuju tenggelam itu terlihat begitu penuh dan.. mewah! 😀

Saya memintanya untuk sedikit saja menurunkan laju mobil, tujuannya ya supaya saya bisa memotret senja tersebut. Tapi bukannya makin pelan, justru lajunya semakin kencang. Mungkin dia tidak dengar, begitu saya berkata dalam hati. Maka saya ulangi permintaan saya sekali lagi, tapi lajunya malah semakin cepat lagi. Saya pun sadar, teman saya bukannya tidak mendengar permintaan saya, tapi sengaja mengabaikannya dengan mempercepat lajunya. Saya pun bersut. Melihat hal ini, dia tertawa. Betul saja, dia sengaja rupanya.

Tak lama, kami pun memasuki rest area dan berhenti untuk membeli makanan. Tanpa diduga, dia mengajak saya melihat senja yang masih tersisa, meski sudah tidak semenarik saat saya ingin memotretnya tadi.

Tadi pasti kamu pengin motret itu kan? dia bertanya sambil menunjuk senja. Saya pun menggangguk, Tapi kamu enggak mau pelan-pelan, mana bisa aku motret gitu caranya? Padahal cantik banget senjanya.

 Lebih cantik lagi kalau kamu lihat begini, dia menyalakan rokok sambil melihat ke arah senja merah yang semakin sedikit terlihat. Saya mengalihkan pandangan, mulai melihat senja dan pergerakannya yang makin terbenam. Kami tidak berbicara sedikit pun, menyaksikan hilangnya senja cantik itu sampai tak terasa langit pun gelap.

Nikmati senja begini aja yuk lain kali, gak usah difoto. Mau ya?

Saya tersenyum, dia memang kurang suka dengan smartphone, yang saya tidak habis pikir, dia ternyata jauh lebih tidak menyukai lensa dibanding saya. Saya hanya tidak suka menjadi obyek foto, tapi saya begitu menikmati saat mengejar obyek lain dengan lensa. Sedangkan dia, lebih menyukai semua yang dinikmati secara alami.

Sejak itu, saya pun lebih banyak mengumpulkan senja di ingatan. Foto di atas, adalah foto senja terakhir yang saya ambil di tahun 2016. Banyak yang lebih cantik, tapi hanya ada di ingatan saya. Saya menyaksikan senja terbenam perlahan dengan begitu elegannya, lalu meninggalkan langit gelap sebelum akhirnya diisi bintang dan atau bulan dengan sinar keperakan.

Advertisements

Senja yang Tak Tertangkap Kamera

6 thoughts on “Senja yang Tak Tertangkap Kamera

What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s