Melepas Filter

d728a5ad6e8db39014958d56b5bc8238.jpg

Tahun lalu memang tak banyak tulisan yang berhasil hadir di sini. Di awal tahun sih rajin ya, tapi lalu terhenti begitu saja di bulan ketiga. Tadi sepulang kerja, saya menjelajahi daftar tulisan saya di sini dan baru sadar satu hal. Semakin lama saya semakin jarang menulis. Dulu saya menulis banyak hal tak penting di sini, mulai dari curhat gak jelas, pemikiran-pemikiran cetek, lirik lagu yang luar biasa gombal, puisi ala kadarnya buat sosok yang begitu istimewa, sampai salinan pesan di ponsel yang masih bisa membuat saya tersenyum sampai hari ini begitu melihatnya.

Jadi, apa yang bikin saya semakin jarang menulis di sini?

Rupanya saya, seiring berjalannya waktu –dan usia, uhuk–, tanpa sadar mulai memikirkan isi dari tulisan yang akan saya tayangkan di sini. Hal ini membuat saya lebih banyak membuat tumpukan tulisan yang macet dan hanya berakhir di folder draft. Benar, saya tidak lagi menulis untuk kesenangan sendiri. Banyak hal yang kemudian selalu menjadi pertimbangan saat menulis di sini. Dan sekarang, saya menyesal karena tidak lagi terbiasa dengan bebas menuliskan apa yang saya mau, rasa, dan atau perhatikan. Terlalu banyak filter yang saya kenakan pada jemari saya saat menulis, meski saya yakin, tidak banyak orang yang membaca tulisan saya, apa pun isinya. Akibatnya, ada begitu banyak momen terlewatkan begitu saja tanpa pernah saya tuliskan.

Maka tahun ini, saya ingin melepaskan satu per satu filternya, kemudian menuliskan apa yang saya ingin tulis, tentu saja dalam bahasa yang baik. Saya ingin dapat menuliskan semua hal dalam bahasa yang baik, dalam arti kata tidak melukai siapa pun. Saya ingin berbagi pengalaman lewat tulisan meski sedikit dan terbatas.

Yang pasti, saya ingin mempunyai jejak-jejak momen penting yang dapat saya baca kembali pada sekian waktu ke depan…

Advertisements

That is what I am to you..

This is what I know about you
This is what I remember
This is what is in my head
You..
Everywhere, everything, what you say, what you eat, what you wear, what you think
I dream your dreams and I sweat your nightmares
This is what you are to me
And what am I to you?
I am the man to be thrown on the grenade and the guy you use and abuse and toss out and try desperately to reel back in to save you one more time
That is what I am to you
That is all you know about me
If I left this room, you wouldn’t even remember I was here, but I could tell you Everything you said, the color of your shirt, the part of your hair
I can look in your eyes and know how you slept the night before
I know exactly how many times you mispronounced a single word in a debate 17 years ago, and you couldn’t tell me my mothers name
I know why we’re sitting here to fill in this masterpiece
I get a job, some job
You get to keep yours
We all march forward into glory
All is forgotten
That’s the deal on the table, and I’m not going to take it
Because this band is never, ever, getting back together
I do not need this…
I do not need you…
Not anymore..
~Scandal, S05. Cyrus Beene to Fitzgerald Grant at Oval Room.
Semua yang Cyrus kerjakan, mulai dari tindakan baik sampai buruk, memang tujuannya cuma antara menyelamatkan figur presiden atau membahagiakan Fitz, meski kadang harus merendahkan dirinya sendiri. Tapi Fitz sering kali lupa. Yang selalu terjadi adalah Fitz memanggil Cyrus saat membutuhkan bantuan atau orang untuk disalahkan.

[Ulasan buku] #1: Proyek Maut – Eddie Sindunata

2015-05-13 23.25.05

Dalam perjalanan menuju Lampung, liburan lalu.

Komisaris Polisi Hardi Setiawan, profil yang sedang naik daun di kalangan Polda Metro Jaya mendapat tugas menangani kasus pembunuhan salah satu pengusaha kelas atas di Indonesia. Jenis pembunuhan yang profesional, mengingat korban yang ditembak dari jarak dekat. Jelas bukan kasus main-main, apalagi disusul oleh beberapa pembunuhan lain yang akhirnya diketahui bermuara pada sebuah proyek yang bahkan masih berstatus rahasia. Bukan hanya itu, rumitnya kasus ini harus dilalui Komisaris Polisi Hardi yang juga berjuang untuk menyelamatkan putrinya dari incaran pembunuh.

Proyek rahasia yang diperkirakan akan dapat mengungkap pembunuh berantai tersebut ternyata justru menyeret nama Gubernur dan adiknya. Ditambah lagi dengan kelihaian pembunuh berantai tersebut, Sang Serigala yang dibantu oleh adiknya, sniper ulung yang tahu betul langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menghindari kejaran atau kepungan polisi.

Meski sudah dibantu oleh tim berisikan lima orang dengan keahliannya masing-masing, Komisaris Hardi masih merasa selalu tertinggal satu langkah dari pembunuh tersebut. Mengetahui lokasi terakhirnya saja ternyata masih tidak bisa membuat Komisaris Hardi dan tim berhasil menangkap kakak beradik yang berbahaya itu. Sampai akhirnya Komisaris Hardi berada di situasi yang sulit, putrinya ada di tangan Sang Serigala dan harus memilih antara menyelesaikan kasus pembunuhan berantai tersebut atau lebih dulu menyelamatkan putrinya.

Kenapa tim kepolisian selalu saja tertinggal? Kira-kira siapa sebenarnya dalang dari pembunuhan berantai itu?

***

Setelah beberapa waktu nyaris tidak ada novel lokal bergenre thriller, belakangan ini sudah mulai kembali bermunculan, Proyek Maut adalah salah satunya. Saya termasuk penggemar kisah-kisah menegangkan penuh detail. Dan membaca buku ini membuat saya teringat akan film-film detektif itu. Porsi tanggung jawab yang sama dari tiap anggota tim, menunjukkan bahwa Komisaris Hardi bukan jagoan yang bisa mengerjakan semua hal secara bersamaan. Dan mengambil sudut pandang politik? Bisa dibilang pilihan yang cukup berani, karena sedikit banyak penulis harus tahu alur atau jalur pengadaan proyek dan prosedur-prosedur yang mengiringinya.

Keberadaan tim Komisaris Hardi yang sedikit demi sedikit berhasil menyusuri jejak Sang Serigala dan penyebab kebocoran proyek rahasia membuat saya bertanya-tanya, kira-kira di kepolisian Indonesia sebenarnya memang ada tim seperti ini atau gimana, ya? Karena ternyata kerja tim seperti ini cukup efektif dalam memecahkan kasus. Di saat Hardi mengejar Sang Serigala di jalanan, dia bisa tetap meminta data terbaru pelacakan melalui salah satu anggota timnya. Bahkan di saat Evi, putri Komisaris Hardi tengah berada di tangan penculik, anggota timnya turut andil dalam menemukan kembali meski sempat terkecoh dan kehilangan jejak.

Saya menyukai detail yang dijabarkan di buku ini, meski menurut saya penempatannya sedikit kurang pas. Detail yang selalu diungkap setiap kali berhasil memecahkan satu persoalan, sepertinya membuat saya jadi malas untuk berpikir. Satu lagi, dialognya agak terlalu kaku sekalipun bagi anggota kepolisian, mungkin bisa dibuat lebih santai namun tetap formal.

Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini, sepertinya Komisaris Hardi dan tim bisa dibuat jadi tokoh buku berseri, nih.. *mental penonton sinetron* Novel thriller termasuk favorit saya karena terdapat banyak riset yang harus dilakukan dan ada seabrek langkah-langkah dalam melakukan kejahatan yang harus diuji apakah masuk akal atau tidak. Ini membuat saya menikmati detail yang mungkin sebelumnya tidak terpikir oleh saya. Atau bisa saja sudah terpikir tapi kurang tahu bagaimana cara menjadikannya betulan.

3,5 bintang dan saya menunggu novel thriller berikutnya dari penulis. 🙂

[Snapshot] #3 Dini Hari di Masjid Agung – Semarang

Bagian luar Masjid Agung dan rombongan Jakarta

Bagian luar Masjid Agung dan rombongan Jakarta

KopDar Besar Goodreads Indonesia tahun 2014 diadakan di Semarang, Jawa Tengah. Rombongan dari Jakarta, delapan wanita cantik plus satu pria lumayan ganteng, berangkat naik kereta hari Jumat malam dengan perkiraan akan tiba di Semarang Sabtu dini hari. Sesampainya di sana, kami beranjak ke Masjid Agung untuk bersih-bersih dan selonjor sebentar sembari menunggu waktu sholat Subuh. Masjidnya, Subhanallah, luas dan bagus. Ada pilar-pilar yang membentuk lingkaran, di bagian atasnya penuh dengan kaligrafi yang indah banget. Dan ada banyak payung superbesar yang dapat dibuka apabila hujan turun. Di saat cuaca normal, payung ini akan menutup.

Bagian dalam Masjid Agung

Bagian dalam Masjid Agung

Ada dua lantai, sepertinya lantai atas ditujukan untuk pengunjung wanita. Tempat untuk berwudhu, luas dan punya banyak bilik toilet. Dan di luarnya terdapat tempat penitipan barang pengunjung, meski tidak 24 jam buka. Bagi pengunjung wisata, di sini disediakan wisma penginapan, lho. Menjelang Subuh, mulai banyak yang berdatangan, wow! Masjid ini bukan cuma besar tempatnya, tapi memang banyak pengunjungnya. Di bagian luar masjid tampak pelataran luas, mungkin untuk mengantisipasi ledakan pengunjung di hari raya.

masjidagung

Munculnya matahari, dipotret dari pelataran depan Masjid Agung

Setelah semua menunaikan shalat, rombongan Jakarta menanti rombongan Bandung-Kuningan yang menyusul ke Masjid Agung. Kami berencana akan sarapan di lesehan seberang masjid, lumayan untuk mengganjal perut mengingat perjalanan yang pastinya akan panjang. Di sela waktu menunggu, gue menyusuri pelataran dan sibuk lihat-lihat. Dan, itu dia! Matahari, ternyata datang dari sana. Begitu cantik caranya datang, naik perlahan membawa sinar kuning yang ah, bagus deh kalau lihat sendiri. Cuma motret sekali, dan gue menghabiskan waktu melihat matahari naik. Lain waktu kalau ke Semarang, harus menyempatkan ke sini lagi. Biar bisa lihat keseluruhan isinya.

Menjelang pukul tujuh pagi, rombongan Bandung-Kuningan pun datang, sudah waktunya pergi dari Masjid Agung. Mari bertemu Goodreaders lain! 🙂

Lokasi: Masjid Agung – Semarang, Indonesia.

Tanggal: 6-8 Juni 2014

Kamera: SmartFren AndroMax V – 5MP

Yang Berbahagia di Januari 2015

f9fcec665d852fd0fb4f6af1377338cd

Alhamdulillah, bulan pertama tahun 2015 terlewati dengan baik. Sedikit hujan di akhir bulan, tapi gak berdampak besar dengan aktivitas di luar ruangan. Apa yang menarik di bulan Januari kemarin? Nah nah nah, ternyata ada beberapa pihak *halah* yang sangat berbahagia di bulan Januari kemarin. Yuk, ikutan ngintip ceritanya.

2015-01-11 19.10.20

Arief dan Nana

1. Nikahan Nana.

Karena ngalamin pas si Nana lagi naksir sama suaminya ini, zaman si suami masih tugas di Afrika trus Nana cuma bisa stalking sambil ngiler-ngiler dari Jakarta, makanya pas mereka akhirnya pacaran gue senang bukan main. Sekian lama ngegebet doang, sampai akhirnya si cowok incaran balik ke Jakarta (for good), gimana gak bikin bocah unyu imut ini gak cengar-cengir melulu? 🙂

Berhubung kakak mereka memang temanan, jadi ya jalannya terbuka lebar, dan setelah kurang lebih setahun pacaran, akhirnya mereka menikah di awal tahun ini. Ahey!

Undangannya didesain Nana sendiri, konsepnya kartu perpustakaan yang biasanya diisi tanggal saat meminjam dan mengembalikan buku. Tapi untuk undangannya, Nana bikin pakai tanggal-tanggal penting mereka. Unyu yaaa*mata lope-lope* Nah, pas ketemuan sesama alumni Elex buat ngerumpiin soal nikahannya, kami semua merasa sulit percaya kalau Nana akhirnya nikah duluan. Bukan kenapa-kenapa, tapi asli deh, ini anak masih polos banget! Dan waktu kita semua bilang kalau sulit percaya, dia cuma jawab, “Tenang aja,mbak. Aku sudah cukup umur, kok..” terus dia senyum malu-malu. Nnggg

2015-02-10 01.02.39

Gerombolan dari Elex Media Komputindo. Foto milik Ayu.

Selamat menempuh hidup baru, Nana. Meski sudah semakin jarang ketemu, kami semua doakan semoga kalian jadi keluarga samara. Kalau dengar dari cerita-ceritanya Nana, mereka memang punya banyak kesamaan. Gak heran dulu Nana senang banget kalau pas stalking. Hahahaha

2015-01-15 14.05.00-1

Ayu Gusrinie di Logo Ultah Elex

2. Ulang Tahun Elex Media Komputindo ke-30

Pantes ya, gue susah move on dari Elex, lha wong kami lahirnya hampir bersamaan gini.. #eaaa Tahun ini Elex ultah ke-30, meski gak dibarengi dengan diskon bukunya sesuai usia seperti ultah-ultah di tahun sebelumnya, tapi tahun ini ada bazar komik supermurah yang jadi gantinya. Banyak yang dapat komik Toper Kaca Deluxe, meski gak lengkap, tapi lumayan banget lho itu. Karena gue alumni yang masih senang datang ke kantor Elex, jadi gue sengaja banget main ke Elex pas syukuran mereka. Dan ternyata, acara tahun ini benar-benar luar biasaa. Temanya Red Carpet and Awards, iya jadi mereka mempunyai beberapa kategori terpilih untuk orang internal Elex. Lalu bagian yang paling bikin gue mengangaada jogetjogetnya! Yang joget bukan cuma yang masih mudaa, tapi termasuk yang tua-tua. Tahu kan lagu All About That Bass? Nah, iya itu lagu yang dibuat jadi pengiring jogetnya mereka. Kocak!

2015-01-16 08.04.11

Yang sudah lulus dari Elex

Meski gak semua yang lulus bisa datang, tapi yang satu angkatan sama gue sih hadir, kecuali Nana yang lagi bulan maduan. Dan kayaknya kami gak ada yang mau melewatkan untuk foto-foto di panggungnya. Hahaha, norak! Habis selesai foto-foto, kami muter salaman sama penghuni tetapnya Elex, baru deh sibuk makan. Senang bukan main bisa ketemu Mas Bos ya, sesudah sekian lama gak berkunjung ke sana. Kami main-main sebentar di ruang depan, sampai gak terasa sudah masuk jam pulang kantor. Ikutan beresin panggung sebentar, terus ya kami pamitan sambil turun bareng-bareng. Tahun depan sepertinya mau meluangkan waktu lagi ah ke sana. Menyenangkan! 🙂

2015-01-15 14.11.28

Kaki penunjuk arah dan barcode

Ini yang paling menarik, di lobi depan gedung KG ada tapak kaki penunjuk jalan ke Elex, plus barcode yang ternyata kalau kita menjejak di titik yang tepat, akan menampilkan bayangan di tembok bagian atas. Bayangan apa? Bayangan kita berada di antara dinosaurus yang sedang berlarian. Seru, ya? Jadi kita bisa pura-puranya lagi dimakan sama dinosaurus itu atau pura-pura menghindar dari serangannya.

2015-02-16 19.13.36

Ijab Kabul Adit dan Vita. Foto milik Adit.

3. Nikahan Adit dan Vita.

Ini dia nikahan antar anggota Goodreads Indonesia. Yeiy! Kayaknya sih mereka bisa dekat karena sama-sama jadi panitia IRF deh. Pacarannya kurang lebih setahunan, dan tiba-tiba pagi hari si Adit kirim gambar undangan ke grup WhatsApp. xD Gue datang pas resepsinya aja di rumah Vita, motoran berdua Selvi yang hebatnya, gak pakai acara nyasar! Padahal yang pada naik mobil aja nyasar, lho. Hohohoho, rekor banget. Anak-anak GRI lumayan juga yang datang, dan meski pas pulang gue plus Selvi kehujanan, tapi yang penting sudah berhasil foto bareng anak GRI, minus Jati dan Hani yang sudah pulang duluan. Selamat, ya! Semoga kalian jadi keluarga samara sampai maut memisahkan.. 🙂

2015-02-16 19.13.56

Edisi gaya bebas. Foto milik Echa.

 

 Nah, segitu saja cerita dari gue, kisah lain akan menyusul buat bulan Februari. Kalian punya cerita bahagia apa di bulan Januari? Semoga sama membahagiakannya, ya.. 🙂

Goodreads Indonesia Readathon Day 2015

Diambil dari thread GRI

Diambil dari thread GRI

Tanggal 24 Januari 2015 kemarin, Godreads.com mengadakan kerja sama dengan National Book Foundation mengadakan Readathon Day 2015 mulai dari pukul 12.00-16.00 waktu setempat. Selengkapnya bisa disimak pada tautan berikut. Lalu Goodread Indonesia mengadaptasinya menjadi GRI Readathon Day 2015. Kebetulan banget tanggal 24 Januari 2015 jatuh di hari Sabtu, dan diadakan juga pada pukul 12.00-16.00 WIB. Apa itu Readathon? Bagi Goodreaders Indonesia belum tahu yang ingin ikutan baca maraton ini, sudah disediakan thread khusus di sini, Mulai dari cara ikutan, format penulisan buku yang akan di baca, terakhir format tweet berisi jumlah halaman dan informasi buku setelah waktunya usai. Buku yang dipilih boleh apa saja. Tidak harus memulai buku baru, tapi bisa juga hanya meneruskan buku yang sedang dibaca. Menarik, ya?

Nah, karena pas banget hari Sabtu, beberapa dari Goodreaders Indonesia akhirnya malah jadi baca bareng di Perpustakaan Freedom Institute. Tahu, kan? Iya, itu salah satu perpustakaan paling kece di Jakarta Selatan. Tempatnya nyaman, adem, luas, dan menyediakan fasilitas wi-fi bagi pengunjungnya. Ah, pokoknya asik deh baca di situ. Meski jam baca yang ditentukan adalah mulai pukul dua belas siang hingga empat sore, totalnya empat jam, tapi bukan berarti yang baru bisa mulai baca dari pukul satu siang jadi gak boleh ikutan, lho. Gue sendiri baru memulai baca pukul 12.30 siang, sesampainya di Freedom Institute. Dan lihat, dua remaja manis ini juga ikutan baca, lho. Uum sibuk membaca buku referensi untuk skripsinya dan Selvi membaca Simple Miracles karya Ayu Utami. Pengunjung lain yang datang ke Freedom Institute cukup banyak, bisa dibilang nyaris penuh.

Uum dan Selvi

Uum dan Selvi

2015-01-24 15.04.00

Pengunjung lain

Gue sendiri pilih melanjutkan baca buku One Day karya David Nicholls. Sejak tahun kemarin sudah baca buku ini sampai halaman sekian tapi terus entah kenapa mandek. Jadi gue ambil kesempatan ini buat meneruskan baca, yah lumayan kan nambah sekian halaman lagi. Baca bareng di perpustakaan begini ternyata asyik, lho. Fokus dan gak terasa tiba-tiba sudah menyelesaikan 97 halaman. Mungkin harus diagendakan sesekali begini lagi, ya. Bikin agenda sendiri saja, gak perlu harus ada temannya. Sebenarnya memang gak harus juga baca di perpustakaan begini, tapi kalau baca di rumah kadang suka merasa terlalu banyak pengalihan. Nonton film seri, tidur, main games, atau sekadar bercanda sama si Upil. Semoga makin banyak perpustakaan nyaman di Jakarta, jadi makin banyak juga tempat untuk baca. Nanti pengin coba baca di taman juga, sih. Terus tujuan utama ya mana lagi selain Taman Suropati, kan? 😀

2015-01-24 15.02.49

One Day – David Nicholls

Meski terlambat sekian minggu untuk mengucapkan, tapi gak masalah harusnya.

Selamat hari maraton baca 2015, semuaaa.. 🙂

 

MotoGP 2015 #1: Persiapan

11

Yeeeei, MotoGP 2015 sudah di ambang mata.. 😀

Balapan pertamanya masih di bulan Maret, sih. Tapi gak ada salahnya bersiap dari sekarang. Mengingat kebiasaan buruk gue setiap kali mau nonton siaran MotoGP, yah apalagi kalau bukan lupa jadwal. Bukan cuma lupa itu balapan harusnya minggu ini atau minggu depan, gue juga suka lupa jam tayangnya yang otomatis mengikuti lokasi pertandingan. Sudah panik karena takut gak bisa ngejar jam 7 malam, jam tayang normal MotoGP, eh ternyata memang balapannya baru ada minggu depan. Atau sebaliknya, sudah sibuk ini itu di tempat lain, terus pas gak sengaja iseng cek gariswaktunya Twitter, ternyata lagi ada balapan MotoGP. Capek deh.

Jadi, tahun ini gue harus lebih penuh persiapan. Salah satunya ya harus punya jadwal sendiri yang bisa langsung dilihat. Biasanya untuk tahu jadwalnya gue suka ribet sendiri antara googling dulu atau menyusur cari tweet-nya @MotoGP, terus kemudian internetnya bapuk jadi akhirnya gak dapat apa-apa. Cih.

Langsung aja, ini dia jadwal balapan MotoGP 2015, diambil dari situs resminya.

1-18

Tapi jadwal di atas itu berdasarkan tanggal pada lokasi pertandingan, jadi beberapa balapan akan tayang di sini dengan tanggal yang berbeda. Berhubung kayaknya Trans 7 belum mengeluarkan jadwal tayang resminya, atau mungkin gue yang belum tahu, berikut gue kasih perkiraan jam tayangnya. Nanti kalau sudah ada jadwal resmi, bakal gue perbarui.

Tanggal Grand Prix Sirkuit Jam Tayang
30 Maret GP Qatar Losail 2:00 WIB
12 April GP Amerika Austin TBA WIB
20 April GP Argentina Termas de Rio Hondo 00:00 WIB
03 Mei GP Spanyol Jerez 19:00 WIB
17 Mei GP Prancis Le Mans 19:00 WIB
31 Mei GP Italia Mugello 19:00 WIB
14 Juni GP Catalunya Barcelona 19:00 WIB
27 Juni GP Belanda Assen 19:20 WIB
12 Juli GP Jerman Sachsenring 19:00 WIB
10 Agustus GP Indianapolis Indianapolis 1:20 WIB
16 Agustus GP Rep Ceko Brno 19:00 WIB
30 Agustus GP Inggris Donington Park 19:00 WIB
13 September GP San Marino Misano 19:00 WIB
27 September GP Aragon Aragon 19:00 WIB
11 Oktober GP Jepang Motegi 12:00 WIB
18 Oktober GP Australia Phillip Island 12:00 WIB
25 Oktober GP Malaysia Sepang 15:00 WIB
08 November GP Valencia Valencia 20:00 WIB

Yang lebih menyenangkan, gue nemu aplikasi pengingat jadwal ini buat iPhone. Namanya Pocket MGP 2015. Aplikasinya gratis, dan lumayan komplet buat gue. Oh, ada yang versi berbayar juga dengan banyak tambahan fitur yang bisa diaktifkan. Ini beberapa tampilan dari versi gratisnya. Ada hitungan mundur menuju balapan terdekat, terus ada klasifikasi sementara, yang pasti ada kalender jadwal balapan. Lumayan banget kan ini?

Pocket MGP 2015

Kalau mau yang lebih lengkap lagi, ada aplikasi yang namanya MotoGP Live Experience 2015 dengan harga Rp 239.000. Menurut gue sih harganya lumayan mahal, ya. Tapi harusnya sih memang punya banyak fitur dan lebih asyi dipakai. Berhubung gue gak beli, jadi gak bisa kasih tahu apa aja fitur yang disediakan. Tapi kalau lihat di keterangan, ya aplikasi ini memang bikin penggunanya bisa mengikuti balapan Moto GP secara langsung karena tersedianya fitur Video. Dan saat pertandingan pun, pengguna aplikasi ini bisa melihat miniatur sirkuit lengkap dengan posisi tiap pembalap saat pertandingan. Keren, ya?

2015-01-28 23.46.37

Baiklah, sepertinya persiapan gue sudah cukup. Soal pembalap, yah karena gue kan anaknya susah move on, jadi gue tetap bawa bendera kuning-biru punya Movistar Yamaha. Iya sih, ada Baby Alien yang lagi di puncak kejayaan di Repsol Honda. Tapi ya biarkan aja, gue tetap mau kasih semangat buat yang nomor 46. Tinggal harap-harap cemas tiap pertandingan aja nih.

Selamat menikmati Moto GP 2015.. 🙂

[Laporan Pandangan Mata] – #1 Peluncuran Buku “Senyawa” karya Andrei Aksana

Penyerahan mock-up buku “Senyawa” oleh Hetih Rusli pada Andrei Aksana

18 Januari 2015 kemarin, Gramedia Pustaka Utama mengadakan peluncuran buku “Senyawa” karya Andrei Aksana di Gramedia Pondok Indah Mall 1, Jakarta. Goodreads Indonesia mendapat jatah 10 undangan untuk ikutan di acara tersebut, gue salah satu yang ikutan datang. Bagi pengunjung yang mengikuti acara peluncuran buku ini, mendapatkan satu buku “Senyawa” setelah mendaftarkan diri di meja registrasi. Pengunjung juga bisa ikutan Lomba Baca Puisi yang nantinya akan diadakan di akhir acara.

Tepat pukul 14.00 acara dimulai, dipandu oleh MC sekaligus moderator, Jansen Siahaan. Dibuka dengan penyerahan mock-up buku “Senyawa” yang gede banget oleh Hetih Rusli, selaku editor, pada Andrei Aksana sebagai tanda peluncuran buku, sekarang sudah dapat ditemukan di toko buku. Kemudian beberapa teman dari AAFC (Andrei Aksana Friends Community) membacakan puisi dari buku “Senyawa” diiringi petikan gitar oleh mas-mas dari toko buku Gramedia.

Pembacaan puisi diiringi petikan gitar

Masuk di bagian talkshow, pas Hetih Rusli bilang kalau Andrei Aksana ini penulis serba bisa, ya gue juga baru sadar kalau bukunya tuh ada di berbagai lini. Dari Metropop, Teenlit, buku dewasa, ditambah sama kumpulan tweet puisi yang dibukukan sebelum “Senyawa”. Gue sendiri cuma pernah baca satu buku Metropop-nya plus dua buku Teenlit-nya. Mengenai judul, Andrei sih bilang kalau buku ini dimaksudkan mengajak pembacanya untuk selalu bersenyawa dengan pasangan kalau ingin terus langgeng hubungannya. Kenapa harus terus bersenyawa? Karena adanya zat feromon, zat yang punya bertanggungjawab atas rasa suka pada lawan jenis, cuma bisa bertahan paling lama empat tahun pada orang yang sama. Wew! Nah, kalau pasangan itu gak rajin bersenyawa, maka reaksinya akan hilang dan bisa jadi malah timbul reaksi baru dengan orang lain yang bukan pasangannya. *melongo*

Di sesi tanya jawab, ada beberapa media yang seperti biasa menanyakan soal proses kreatif buku ini. Ternyata ya, tadinya buku puisi ini sudah siap sejak sebelum novel terakhirnya, Angin Bersyair. Tapi karena keputusan dari penerbit, akhirnya novel itu duluan yang terbit. Terus buku puisi ini direncanakan sebagai tandem dari novel tersebut. Ternyata setelah Angin Bersyair terbit, buku puisinya justru dirasa kurang sesuai dengan isi novel tersebut. Jadi, Andrei menuliskan ulang banyak puisi lagi sampai akhirnya jadi juga buku “Senyawa” ini. Terdiri dari beberapa bab, buku ini memiliki total sekitar 180an puisi.

Moderator, Andrei Aksana, dan Hetih Rusli

Selesai talkshow, moderator mempersilakan perwakilan dari AAFC untuk maju ke depan dan memperkenalkan komunitas tersebut. Meski bisa dibilang kegiatannya selama ini masih berkisar event regular seperti buka puasa bersama atau menghadiri peluncuran buku bersama, tapi di tahun 2015 ini mereka ingin lebih aktif dan lebih sering kumpul. Sudah terbentuk hampir lima tahun, tapi karena kegiatan Andrei yang superpadat, AAFC jarang sekali bisa bertemu dengan penulis kesayangan mereka itu, paling-paling hanya setahun sekali. Semoga di tahun 2015 AAFC bisa lebih sering ketemu Andrei dan semakin banyak anggotanya.

Sebelum akhirnya Andrei Aksana menutup acara peluncuran buku dengan membacakan puisi karyanya sendiri, yang belum dipublikasikan, moderator memberikan sepuluh pertanyaan singkat yang harus dijawab secepatnya. Lucu juga bagian ini, soalnya pas jawab beneran gak boleh diam lama buat pilih jawaban. 😀

Penghabisan acara, ada Lomba Baca Puisi. Meski gak lihat sampai semua peserta tampil, gue sempat lihat peserta pertama. Keren, deh. Jadi dia baca puisi yang lumayan panjang dari buku “Senyawa”, tanpa lihat buku dan diringi melodi yang sebelumnya sudah dia siapkan sendiri. Sampai merem-merem gitu pas baca puisi. Saking terpananya, gue sampai lupa ambil gambarnya. Tapi yang sudah pasti keren baca puisinya sih Kak Wulan, ya. Dia menang lomba puisi itu dan dapat voucher plus suvenir. *ya, kan, kak?*

Kesimpulannya, kayaknya gue kelebihan kadar feromon, deh. Soalnya gue biasanya lebih dari empat tahun, tuh.. *gak nyambung* *ujung-ujungnya curhat*

Baiklah, sampai jumpa di LPM-LPM berikutnyaa.. 🙂

 

Catatan: mohon maaf jika ada penulisan nama, judul, atau isi talkshow yang kurang sesuai.